SAHABAT CINTA
Soal hati tak bisa berbohong,
sepandai apapun mulut menyembunyikannya, pada akhirnya hati yang akan
mengontrol tindakannya, mata yang akan memancarkan kilauannya.
Memendam perasaan itu berat, ada tiga kemungkinan hasil dari memendam perasaan itu, ketika kita meluapkan perasaan dalam keadaan matang, kebahagiaan cinta akan kita dapatkan, jika terlalu lama dipendam, maka perasaan itu akan membusuk, memberikan luka dihati yang terdalam, dan jika kita luapkan perasaan sebelum waktunya, hanya akan menghasilkan kebimbangan.
Memendam perasaan itu berat, ada tiga kemungkinan hasil dari memendam perasaan itu, ketika kita meluapkan perasaan dalam keadaan matang, kebahagiaan cinta akan kita dapatkan, jika terlalu lama dipendam, maka perasaan itu akan membusuk, memberikan luka dihati yang terdalam, dan jika kita luapkan perasaan sebelum waktunya, hanya akan menghasilkan kebimbangan.
CINTA YANG TERPENDAM
Kala mimpi memandang, semua hanya
akan menjadi angan
angan adalah komponen utama pembentuk kenyataan
tanpa adanya angan, tak akan ada yang sejalan
dengan adanya anganpun tak semuanya akan sejalan
anganku ingin memilikimu dan berharap akan sejalan
angan adalah komponen utama pembentuk kenyataan
tanpa adanya angan, tak akan ada yang sejalan
dengan adanya anganpun tak semuanya akan sejalan
anganku ingin memilikimu dan berharap akan sejalan
Mendung
di sore hari menghancurkan keindahan senja sore itu, tapi tidak dengan hati
sandra, wanita berambut panjang dengan tubuh ideal dan berkulit putih sedang
cengar-cengir membaca pesan dari sahabatnya, seorang lelaki bertubuh tegap,
berambut ikal dan berkacamata. Ia tak beranjak dari tempat tidurnya sambil
terus menunggu balasan pesan dari lelaki itu.
“Halo”
“kok
lama sih balesnya” tanya Sandra yang letih menunggu balasan pesan dari Angga.
“iya
bentar, tadi habis makan sama teman-teman, ini lagi mau bales malah kamunya
sudah nelfon duluan”
“yaudah
gak usah di bales, kita telfonan aja”
2
jam terlewat sudah, kita berdua masih asik ngobrol, entah kenapa aku selalu
merasa lega ketika aku bisa mencurahkan keseharianku dengannya, angga tak
banyak bicara, tetapi sekali bicara dia selalu bisa membuatku tertawa, hampir
setiap malam aku selalu menelfonnya hanya untuk membicarakan keseharianku yang
begitu gabut.
Senin
selalu menjadi hari yang melelahkan, setengah hariku lenyap hanya untuk
rutinitas kampus, bagiku kampus adalah penghalang pandangan, pandangan untuk
menatap kedepan, setiap hari hanya di jejali materi tanpa tau perkembangan
jaman, kurikulum yang di pakaipun sering kali tidak up to date, dunia kampus mencetak
kita untuk menjadi pekerja, bukan pengusaha, setidaknya itulah penghakimanku
kepada perguruan tinggi saat ini. Aku kuliah sebenarnya bukan karena keinginan
diriku sendiri, tetapi keinginan kedua orang tua ku, dan setidaknya ketika
wisuda aku bisa melihat kedua orang tua ku bangga.
Di
kampus aku menyukai seorang lelaki, dia satu kelas dengan ku, dan bagiku itu
cinta pada pandangan pertama. Entah apa yang kurasakan, pikirku selalu saja
mengingatnya, dan lelaki itu selalu menjadi salah satu topik yang selalu aku
ceritakan kepada angga tiap kita ngobrol. Hanya saja lelaki yang aku taksir
tidaklah peka, entah memang dia tidak menyukaiku atau dia yang tak terbiasa
dekat dengan seorang perempuan.
Sepulang
kampus aku lihat veno sedang berjalan pulang, disebelahnya ada seorang
perempuan, perempuan itu bernama lisa, dia teman sekelasku juga di kampus,
sakit hati ini melihat lelaki yang aku taksir ternyata pulang berdua dengan
seorang perempuan, apalagi mereka berdua teman sekelasku, tetapi entah kenapa
perasaanku ke dia masih sama, hanya saja perasaan cinta di tambah dengan rasa
bimbang, berfikir apakah dia suka denganku juga atau tidak, itu yang saat ini
selalu muncul dalam pikirku.
Malam
itu aku menelfon angga, seperti hari-hari biasa ketika aku ingin bercerita,
maka angga lah wadah yang tepat untuk mencurahkan isi hatiku, mencurahkan
kegelisahan dan kegalauanku. Ku ceritakan semua yang kualami hari ini, kegiatan
kampus yang tak ku sukai, makan makanan yang hambar dan kegalauanku akibat
veno. angga selalu menjadi pendengar yang baik, 2 jam ia tak lelah mendengarkan
celoteh ku, sesekali ia balas dengan gurauan yang membuatku tertawa, melupakan
sejenak tentang veno, di penghujung obrolan selalu kuminta angga untuk tidak menutup
telepon sampai aku berhenti berceloteh dan tidur, walau terkadang dialah yang
tertidur lebih dulu. Bagiku angga adalah
sahabat terbaiku selama ini.
******
Semalam
aku tidur lebih dulu daripada Sandra, mendengarkan dia berceloteh seperti
mendengarkan sebuah dongeng penghantar tidur bagiku, tak ada koma saat Sandra
mulai bercerita, sampai-sampai aku tak dapat menyela hanya untuk ijin sebentar
ke kamar mandi, tetapi walaupun begitu, aku selalu menanti telfon darinya,
menanti dongeng apa yang bakal ia ceritakan.
Dari
semua yang hampir setiap hari ia ceritakan, ada satu topik yang sangat tidak ku
suka, yaitu ketika Sandra mulai membahas tentang perasaannya kepada teman
sekelasnya yang bernama veno, Sandra selalu bilang bahwa dia sangat suka dengan
si veno, tetapi Sandra selalu saja galau karena perasaannya tak kunjung
terbalas. Pikirku apasih yang spesial dari si veno itu, apasih yang membuat mu
naksir dengan si pria itu, bahkan engkau sampai tidak menyadari bahwa ada orang
yang diam-diam mengagumimu, selalu ada untukmu, selalu bersedia menjadi
tempatmu berkeluh kesah, hanya saja aku masih memendam perasaan itu, menunggu
waktu yang tepat untuk mengungkapkan dihadapanmu.
Kehidupan
kampusku begitu membosankan, setiap hari hanya berkutat dengan perangkat
jaringan komputer, mempelajari bahasa komputer, membuat syntak kemudian
dijalankan di peramban web, terkadang aku berfikir, banyak orang bilang bahwa
aku memiliki phassion di bidang IT, memiliki bakat di bidang IT, tetapi yang
kurasakan selama ini tak pernah sama sekali diriku antusias untuk
mempelajarinya, cukup belajar dengan mendengarkan dosen berceloteh, itu saja
sudah membuatku cukup bosan, apalagi harus belajar dan membaca buku materi,
berbahasa asing pula, sungguh menyebalkan bagiku.
Aku
lebih tertarik memperhatikan tingkah laku orang-orang, bagaimana gerak-gerik
tubuhnya saat berbicara, bagaimana reaksinya saat di omelin dosen di depan
umum, bahkan seringkali mengintip
pasangan dua sejoli yang sedang bermesraan, dan satu hal yang paling ku suka,
yaitu memandangnya, memperhatikan setiap jengkal tubuhnya, kebetulan Sandra
sekampus denganku, jurusan yang sama, hanya berbeda jenjang dan program studi,
aku mengambil program D3 Teknik Informatika, dan Sandra mengambil program studi
S1 Teknik Informatika, kita berdua se-angkatan, tapi tak akan wisuda bersama.
Hari
itu Sandra memintaku untuk membantunya menyelesaikan tugas, ia mengambil
program studi Informatika tetapi tak suka belajar di bidang pemrograman, setiap
kali ada tugas, Sandra selalu memintaku untuk membantunya, akupun tak pernah
bosan membantunya, mungkin karena perasaan yang kupendam ini membuatku tak
pernah bosan ataupun mengeluh, justru bahagia yang kurasakan saat membantunya,
karena duduk berdua dengannya di gazebo kampus sangatlah menyenangkan, belajar dengan
di iringi senja adalah salah satu momen yang tak terlupakan.
Terdengar
suara dari perut Sandra, menandakan bahwa ia sedang lapar, kita berkemas lalu
menuju warung makan pak Gimin yang berada di pertigaan jalan, diwarung itu
menyediakan mie ayam pangsit dan bakso, kita berdua sering makan di warung itu,
karena rasanya cocok dengan lidah kita, sehabis belajar seringkali kita
sempatkan untuk mampir makan di warung tersebut, sesekali diwarung yang lain
agar tidak bosan. Saat itu kembali Sandra bercerita tentang si veno, malas
telinga ini mendengar karena hati ini tak sejalan, tetapi tetap kudengarkan
untuk menghargai curhatannya, ia bercerita bahwa tadi di kelas ketika
pembentukan kelompok untuk tugas pemrograman, Sandra berada satu kelompok yang
sama dengan si veno, ia cerita sambil senyum-senyum sendiri, menandakan bahwa
dia sedang bahagia, tetapi tidak dengan diriku, raut mukaku mencoba untuk menyembunyikan
perasaan yang bergejolak di dalam hati, cukup kubalas dengan senyuman sebagai
tanda bahwa aku juga ikut bahagia.
Sesampainya
dirumah Sandra kembali menelfon seperti sudah menjadi suatu rutinitas, tak
habis kata ia selalu bercerita hingga berjam-jam, dan itu menjadi dongeng
penghantar tidurku, aku tertidur lebih dulu malam itu, memimpikannya, karena
aku tau, hanya lewat mimpi aku bisa memilikinya, membelainya dan memanjakannya,
setidaknya hanya itu yang mampu menghiburku saat ini.
Senja mulai menghitam dan Kita masih
bersama
Denganmu kurasakan kehangatan
Ku tak tau bagaimana cara tuk mengungkapkan
Biar kupendam hingga waktu yang menunjukkan
Denganmu kurasakan kehangatan
Ku tak tau bagaimana cara tuk mengungkapkan
Biar kupendam hingga waktu yang menunjukkan
Aku tau kau memilih hati yang lain
Untuk apa jika hanya menimbulkan rintih
Lihatlah sekelilingmu,
sadarilah
Ada aku disampingmu
selalu ada untukmu, dengan rasa sayang yang selalu utuh
malam selalu manjadi jalan keluar
cukup untukku melampiaskan
hingga kutersadar kala pagi
itu semua hanyalah mimpi
