SAHABAT CINTA

By ronaldo bagoes - February 19, 2019


  

SAHABAT CINTA
Soal hati tak bisa berbohong, sepandai apapun mulut menyembunyikannya, pada akhirnya hati yang akan mengontrol tindakannya, mata yang akan memancarkan kilauannya.
Memendam perasaan itu berat, ada tiga kemungkinan hasil dari memendam perasaan itu, ketika kita meluapkan perasaan dalam keadaan matang, kebahagiaan  cinta akan kita dapatkan, jika terlalu lama dipendam, maka perasaan itu akan membusuk, memberikan luka dihati yang terdalam, dan jika kita luapkan perasaan sebelum waktunya, hanya akan menghasilkan kebimbangan.

CINTA YANG TERPENDAM
Kala mimpi memandang, semua hanya akan menjadi angan
angan adalah komponen utama pembentuk kenyataan
tanpa adanya angan, tak akan ada yang sejalan
dengan adanya anganpun tak semuanya akan sejalan
anganku ingin memilikimu dan berharap akan sejalan
Mendung di sore hari menghancurkan keindahan senja sore itu, tapi tidak dengan hati sandra, wanita berambut panjang dengan tubuh ideal dan berkulit putih sedang cengar-cengir membaca pesan dari sahabatnya, seorang lelaki bertubuh tegap, berambut ikal dan berkacamata. Ia tak beranjak dari tempat tidurnya sambil terus menunggu balasan pesan dari lelaki itu.
“Halo”
“kok lama sih balesnya” tanya Sandra yang letih menunggu balasan pesan dari Angga.
“iya bentar, tadi habis makan sama teman-teman, ini lagi mau bales malah kamunya sudah nelfon duluan”
“yaudah gak usah di bales, kita telfonan aja”
2 jam terlewat sudah, kita berdua masih asik ngobrol, entah kenapa aku selalu merasa lega ketika aku bisa mencurahkan keseharianku dengannya, angga tak banyak bicara, tetapi sekali bicara dia selalu bisa membuatku tertawa, hampir setiap malam aku selalu menelfonnya hanya untuk membicarakan keseharianku yang begitu gabut.
Senin selalu menjadi hari yang melelahkan, setengah hariku lenyap hanya untuk rutinitas kampus, bagiku kampus adalah penghalang pandangan, pandangan untuk menatap kedepan, setiap hari hanya di jejali materi tanpa tau perkembangan jaman, kurikulum yang di pakaipun sering kali tidak up to date, dunia kampus mencetak kita untuk menjadi pekerja, bukan pengusaha, setidaknya itulah penghakimanku kepada perguruan tinggi saat ini. Aku kuliah sebenarnya bukan karena keinginan diriku sendiri, tetapi keinginan kedua orang tua ku, dan setidaknya ketika wisuda aku bisa melihat kedua orang tua ku bangga.
Di kampus aku menyukai seorang lelaki, dia satu kelas dengan ku, dan bagiku itu cinta pada pandangan pertama. Entah apa yang kurasakan, pikirku selalu saja mengingatnya, dan lelaki itu selalu menjadi salah satu topik yang selalu aku ceritakan kepada angga tiap kita ngobrol. Hanya saja lelaki yang aku taksir tidaklah peka, entah memang dia tidak menyukaiku atau dia yang tak terbiasa dekat dengan seorang perempuan.
Sepulang kampus aku lihat veno sedang berjalan pulang, disebelahnya ada seorang perempuan, perempuan itu bernama lisa, dia teman sekelasku juga di kampus, sakit hati ini melihat lelaki yang aku taksir ternyata pulang berdua dengan seorang perempuan, apalagi mereka berdua teman sekelasku, tetapi entah kenapa perasaanku ke dia masih sama, hanya saja perasaan cinta di tambah dengan rasa bimbang, berfikir apakah dia suka denganku juga atau tidak, itu yang saat ini selalu muncul dalam pikirku.
Malam itu aku menelfon angga, seperti hari-hari biasa ketika aku ingin bercerita, maka angga lah wadah yang tepat untuk mencurahkan isi hatiku, mencurahkan kegelisahan dan kegalauanku. Ku ceritakan semua yang kualami hari ini, kegiatan kampus yang tak ku sukai, makan makanan yang hambar dan kegalauanku akibat veno. angga selalu menjadi pendengar yang baik, 2 jam ia tak lelah mendengarkan celoteh ku, sesekali ia balas dengan gurauan yang membuatku tertawa, melupakan sejenak tentang veno, di penghujung obrolan selalu kuminta angga untuk tidak menutup telepon sampai aku berhenti berceloteh dan tidur, walau terkadang dialah yang tertidur lebih dulu. Bagiku  angga adalah sahabat terbaiku selama ini.
******
Semalam aku tidur lebih dulu daripada Sandra, mendengarkan dia berceloteh seperti mendengarkan sebuah dongeng penghantar tidur bagiku, tak ada koma saat Sandra mulai bercerita, sampai-sampai aku tak dapat menyela hanya untuk ijin sebentar ke kamar mandi, tetapi walaupun begitu, aku selalu menanti telfon darinya, menanti dongeng apa yang bakal ia ceritakan.
Dari semua yang hampir setiap hari ia ceritakan, ada satu topik yang sangat tidak ku suka, yaitu ketika Sandra mulai membahas tentang perasaannya kepada teman sekelasnya yang bernama veno, Sandra selalu bilang bahwa dia sangat suka dengan si veno, tetapi Sandra selalu saja galau karena perasaannya tak kunjung terbalas. Pikirku apasih yang spesial dari si veno itu, apasih yang membuat mu naksir dengan si pria itu, bahkan engkau sampai tidak menyadari bahwa ada orang yang diam-diam mengagumimu, selalu ada untukmu, selalu bersedia menjadi tempatmu berkeluh kesah, hanya saja aku masih memendam perasaan itu, menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan dihadapanmu.
Kehidupan kampusku begitu membosankan, setiap hari hanya berkutat dengan perangkat jaringan komputer, mempelajari bahasa komputer, membuat syntak kemudian dijalankan di peramban web, terkadang aku berfikir, banyak orang bilang bahwa aku memiliki phassion di bidang IT, memiliki bakat di bidang IT, tetapi yang kurasakan selama ini tak pernah sama sekali diriku antusias untuk mempelajarinya, cukup belajar dengan mendengarkan dosen berceloteh, itu saja sudah membuatku cukup bosan, apalagi harus belajar dan membaca buku materi, berbahasa asing pula, sungguh menyebalkan bagiku.
Aku lebih tertarik memperhatikan tingkah laku orang-orang, bagaimana gerak-gerik tubuhnya saat berbicara, bagaimana reaksinya saat di omelin dosen di depan umum,  bahkan seringkali mengintip pasangan dua sejoli yang sedang bermesraan, dan satu hal yang paling ku suka, yaitu memandangnya, memperhatikan setiap jengkal tubuhnya, kebetulan Sandra sekampus denganku, jurusan yang sama, hanya berbeda jenjang dan program studi, aku mengambil program D3 Teknik Informatika, dan Sandra mengambil program studi S1 Teknik Informatika, kita berdua se-angkatan, tapi tak akan wisuda bersama.
Hari itu Sandra memintaku untuk membantunya menyelesaikan tugas, ia mengambil program studi Informatika tetapi tak suka belajar di bidang pemrograman, setiap kali ada tugas, Sandra selalu memintaku untuk membantunya, akupun tak pernah bosan membantunya, mungkin karena perasaan yang kupendam ini membuatku tak pernah bosan ataupun mengeluh, justru bahagia yang kurasakan saat membantunya, karena duduk berdua dengannya di gazebo kampus sangatlah menyenangkan, belajar dengan di iringi senja adalah salah satu momen yang tak terlupakan.
Terdengar suara dari perut Sandra, menandakan bahwa ia sedang lapar, kita berkemas lalu menuju warung makan pak Gimin yang berada di pertigaan jalan, diwarung itu menyediakan mie ayam pangsit dan bakso, kita berdua sering makan di warung itu, karena rasanya cocok dengan lidah kita, sehabis belajar seringkali kita sempatkan untuk mampir makan di warung tersebut, sesekali diwarung yang lain agar tidak bosan. Saat itu kembali Sandra bercerita tentang si veno, malas telinga ini mendengar karena hati ini tak sejalan, tetapi tetap kudengarkan untuk menghargai curhatannya, ia bercerita bahwa tadi di kelas ketika pembentukan kelompok untuk tugas pemrograman, Sandra berada satu kelompok yang sama dengan si veno, ia cerita sambil senyum-senyum sendiri, menandakan bahwa dia sedang bahagia, tetapi tidak dengan diriku, raut mukaku mencoba untuk menyembunyikan perasaan yang bergejolak di dalam hati, cukup kubalas dengan senyuman sebagai tanda bahwa aku juga ikut bahagia.
Sesampainya dirumah Sandra kembali menelfon seperti sudah menjadi suatu rutinitas, tak habis kata ia selalu bercerita hingga berjam-jam, dan itu menjadi dongeng penghantar tidurku, aku tertidur lebih dulu malam itu, memimpikannya, karena aku tau, hanya lewat mimpi aku bisa memilikinya, membelainya dan memanjakannya, setidaknya hanya itu yang mampu menghiburku saat ini.

Senja mulai menghitam dan Kita masih bersama
Denganmu kurasakan kehangatan
Ku tak tau bagaimana cara tuk mengungkapkan
Biar kupendam hingga waktu yang menunjukkan

Aku tau kau memilih hati yang lain
Untuk apa jika hanya menimbulkan rintih
Lihatlah sekelilingmu,
sadarilah
Ada aku disampingmu
selalu ada untukmu, dengan rasa sayang yang selalu utuh

malam selalu manjadi jalan keluar
cukup untukku melampiaskan
hingga kutersadar kala pagi
itu semua hanyalah mimpi



  • Share:

You Might Also Like

0 comments