Wanita Bayangan
Tiga puluh delapan hari terlewat
begitu menyedihkan, suamiku yang dulu begitu mesra, begitu sayang dan begitu
cinta kepadaku kini ia sama sekali tak memperdulikan aku, seperti tak
menganggapku ada, setiap hari aku menangis, aku berceloteh, aku coba
menggodanya, tapi tak satupun ia membalas nya.
Apa yang sebenarnya trerjadi pada
sosok lelaki tertampan di dunia menurut versi ku, apakah aku bidadari tak
bersayap yang dulu kau ucapkan untuk menggambarkan sosok diriku telah melakukan
kebodohan? telah melakukan kesalan? Jika iya tolong jelaskan kepadaku, agar aku
bisa memperbaiki kebodohanku, jangan hanya bisu terdiam seribu bahasa, ditambah
kau tak memperdulikanku sama sekali.
Aku sangat sedih, bayangkan
seorang lelaki mendiamkan wanita yang ia nikahi dengan janji akan mencitai
sehidup semati, apakah ia sudah tak mencitaiku diriku lagi? apakah janji itu
hanya terucap hanya dimulutmu tanpa kau lekatkan di lubuk hatimu? Kukira kau
berkomitmen dan telah kau tanamkan dalam hatimu untuk mencitaiku sehidup
semati, ternyata tidak, kini kau seperti lelaki brengsek yang hanya menikahiku
untuk memenuhi hasrat nafsu belaka mu.
Usia pernikahan kita masih
sekecil biji kopi, belum genap 365 hari kita hidup seatap, belum genap setahun
kita tidur dalam satu ranjang, apakah kini kau sudah bosan kepadaku? Apakah kau
tidak suka dengan bentuk lekuk tubuhku? Atau adakah cacat ditubuhku yang tak
kau sukai dan membuat mu merasa jijik? Aku tak mengerti alasan sebenarnya kau
tak menggubrisku sejak 38 hari yang lalu.
Hari ini kau terbangun dari tidur
lelapmu, aku telah menyiapkan secangkir wedang kopi dan roti untuk mengawali
harimu, seperti yang rutin aku lakukan setiap pagi, dan 38 hari juga kau tak
pernah menyentuh hidanganku, melirikpun tidak, kau malah pergi ke dapur membuat
minuman hitam itu sendiri.
Sekarang kau sedang mandi,
bersiap untuk mencari nafkah, dan rutin seperti biasa aku selalu menyiapkan
pakaianmu, kugosok agar terlihat rapi, karena aku ingin suamiku selalu terlihat
tampan, rapi dan keren, dibalik suami yang tampan, rapi dan keren pasti ada
istri yang selalu merawatnya, kusiapkan semua pakaian suamiku sebelum kerja,
tapi 38 hari juga kau tak memakai pakaian yang telah aku siapkan dengan susah
payah, melirik pun juga tidak, kau lebih memilih pakaian lusuh yang tergantung
di dalam kotak kayu. Selama 38 hari kau mencari nafkah dengan pakaian
berantakan, apa kata orang yang meihatmu, pasti merekan berfikiran kalau
istrinya tidak becus mengurus suaminya. Aku hanya bisa terdiam dan sedih
membayangkannya.
Sebelum berangkat kerja, rutinnya
kau selalu berpamitan dengan ku, memeluk tubuhku yang mungil jika dibandingkan
dengan tubuhmu, mecium keningku yang halus karena tak pernah tumbuh jerawat
dikeningku, dan selalu berbisik ke telingaku “aku sayang kamu, tunggu si tampan
ini pulang”, kemudian aku berbalas berbisik di telinganya “siap lelaki tampan, bidadari
cantik ini tak sabar menunggumu pulang”. Walaupun hanya hal sepele, tetapi
kata-kata itu yang selalu mengawali kebahagiannku sepanjang hari, lalu kucium
kening dan tangannya dan kau beranjak menuju mobil berwarna silver yang
terparkir didepan teras rumah. Tetapi sudah 38 hari ini ia hanya pergi bekerja
begitu saja tanpa berpamitan denga ku, sedih diriku, remuk dan hancur hatiku,
tetapi aku berusaha tetap bertahan.
Sepulang kerja kusambut kau di
depan rumah, rutinnya kau selalu memeluk tubuh mungilku dan mencium keningku
sebagai tanda rindu tidak bertemu selama beberapa jam, lalu kau menggendong
tubuh mungilku masuk kedalam rumah dan kita makan bersama, sungguh harmonis
yang kurasakan kala itu, sungguh beruntung aku memiliki sosok lelaki tampan
yang selalu bisa membuatku bahagia, membuatku tersenyum dan membuatku selalu
rindu. Tetapi keharmonisan dan kebahagian itu hilang 38 hari yang lalu, aku
masih mencoba berlapang dada, tetapi apakah ada wanita diluar sana yang masih
kuat hatinya ketika diperlakukan seperti apa yang aku alami selama 38 hari in?
Apakah ada? Mungkin hanya 1 dari 10.000 wanita yang kuat menghadapinya.
Esok hari telah tiba, sekarang hari
sabtu, kau sedang libur kerja mingguan, biasanya rutin setiap hari sabtu kau
selalu mesra kepadaku, kau menggoda ku, kubalas menggodamu juga, kita bercanda
tertawa terbahak-bahak, kita habiskan waktu sehari untuk berbahagia, tak
sedetikpun ada kesedihan, jika ditanya dalam seminggu hari apa yang aku sukai,
pasti akan ku jawab hari sabtu, walaupun hari-hari lainnya juga berjalan
menyenangkan, hari sabtu adalah hari yang selalu kutunggu-tunggu karena pada
hari itu aku merasakan banyak keindahan yang terjadi dan berasa seperti tuan
putri, kau selalu menuruti apa kemauanku dan aku juga selalu menuruti apa
kemauan mu, kau selalu meminta aku untuk memasak makanan kesukaan mu yaitu ayam
opor, setiap hari sabtu kita selalu makan ayam opor, tak pernah aku merasakan
bosan, begitu juga suamiku, karena pada hari itu kebahagiaan selalu menyelimuti
setiap detik yang kita lewati.
Hari sabtu selalu menjadi hari
istimewa, kita habiskan seharian di rumah, melepas kerinduan sejak hari senin
sampai jumat, memuaskan kerinduan kita, walaupun hari itu kita hanya di ruang
utama, ruang makan dan tempat tidur, tetapi entah mengapa itulah yang selalu
kunantikan, seperti tak ada yang bisa mengganggu kita, kita berdua bagaikan
pangeran dan tuan putri, kita bermesraan, bertawa ria dan bercumbu mesra, hingga
ku merasakan seperti berada di surga dunia, begitu nikmat dan indah pada hari
itu. Tetapi semua keindahan dan kebahagiaan itu telah sirna dan tak pernah
kurasakan lagi termasuk hari ini, dia tak memperdulikanku sama sekali,
menggerakkan bola matanya kepadakupun tidak, dia hanya duduk menonton TV, makan
beli di warteg dan tidur.
Matahari telah menampakkan
rupanya, memicingkan cahayanya ke setiap kota, hari ini adalah hari minggu,
hari yang juga selalu kutunggu-tunggu selain hari sabtu, karena di hari minggu
aku juga merasakan keindahan dan kebahagiaan bersama suamiku, di hari ini lah
kita habiskan waktu diluar rumah, melihat pemandangan kota, menemukan hal-hal
baru diluar sana.
Pukul tujuh sehabis sarapan pagi
kita langsung cabut keluar rumah menggunakan mobil silver, kadang kita ke taman
bunga untuk merasakan keasrian bumi, terkadang kita ke kebun binatang untuk
mengetahui kegiatan makhluk hidup lain, terkadang kita ke pegunungan untuk
takjub dengan kekuasaan Tuhan, terkadang kita berwisata kuliner untuk menambah
rasa dalam hidup kita, dan terkadang kita jalan-jalan tak jelas untuk
menghabiskan waktu hari itu.
Semua berjalan menyenangkan
setiap hari minggu, namun tidak dengan hari ini, genap sudah 40 hari ia tidak
memperdulikan aku, melirikpun tidak apalagi berbicara kepadaku untuk sekedar
bertanya bagaimana keadaanmu.
Pagi itu suamiku pergi tanpa
mengajak ku, entah kemana ia pergi sambil membawa mobil silver, aku hanya bisa
pasrah, merenung dan menangis dikamar, berharap keadaan ini segera berakhir dan
kembali seperti sediakala, aku duduk terdiam menunggu suamiku pulang.
Gemuruh suara mobil terdengar di
depan rumah, itu pasti suamiku, aku membukakan pintu untuk suamiku dan pada
saat itu aku terkejut dan terharu melihat suamiku membawa seikat bungan cantik
bewarna merah, bunga itu seperti bunga yang dulu ia berikan saat melamarku, aku
sejenak merasakan bahagia dan berfikir inilah akhir dari penderitaan ku sebelum
ia masuk dan melewatiku begitu saja tanpa memperdulikan aku, seketika hancur
dan remuk hatiku, sedih sangat mendalam yang aku rasakan, ia meletakkan bunga
itu di atas meja, lalu pergi ke kamar, ku hampiri bunga itu dan ternyata
terdapat kertas kecil di ikatan bunga itu, kubaca kertas itu yang bertuliskan
“aku selalu menyayangimu dan aku tak akan berpaling darimu”. Aku sungguh marah
pada saat itu, karena jika bunga itu bukan untuk ku pasti untuk wanita lain,
jadi ini alasan suamiku tidak memperdulikan aku selama 40 hari karena dia
selingkuh dengan wanita lain, itulah yang ada di fikiranku saat itu.
Aku bergegas menghampiri suamiku
di kamar, ia sedang berganti baju, rapi, keren dan tampan, sepertinya dia
menggosok bajunya terlebih dahulu, melihat itu semakin naik pitam diriku, “apa
apaan ini, jadi selama ini kamu selingkuh?” aku membentaknya, tetapi dia tak
merespon sama sekali, “hei dengarkan aku, jawab pertanyaanku, kamu selingkuh?”
tak satupun kata keluar dari mulutnya “dasar lelaki brengsek” aku sempat
memakinya, dan dia masih tidak memperdulikan aku.
Suamiku beranjak pergi dengan
membawa bunga tersebut, menuju mobil dan aku mengikutinya, sepertinya dia
mengijinkan aku untuk ikut karena dia tak melarangku sama sekali, mobil
berjalan begitu pelan, hingga sampai di area pemakaman, dia parkir mobil dekat
dengan area pemakaman, apakah wanita tersebut rumahnya berada di sekitar
pemakaman? Dia turun dan aku mengikuti di belakangnya, dia menuju tempat
pemakaman, dan tiba di salah satu makam, dia duduk dan meletakkan bunga di atas
makam itu, kulihat dia memeluk batu nisan itu sambil meneteskan airmata, aku
masih tak mengerti apa yang terjadi hingga ketika suamiku melepas pelukannya
aku melihat nama ku terpahat di batu nisan tersebut.
“ternyata aku telah meninggal 40
hari yang lalu akibat perampokan di rumahku” dan itu baru kusadari setelah aku
melihat batu nisan itu. Dan kini aku menjadi wanita bayangan yang tak pernah
terlihat oleh suamiku.

