bulan bintang & hujan
By ronaldo bagoes - January 23, 2019
BULAN, BINTANG & HUJAN
Hujan
turun dengan derasnya, seluruh kota gelap karena tak ada cahaya lampu dijalanan
akibat pemadaman listrik, hanya ada kilatan petir yang menyambar kesana kemari,
Bintang ketakutan, terdiam tertutup selimut berwarna pink dengan gambar hello
kitty di dalam kamar, menutup semua pintu dan jendela, Bintang juga menutup
telinga agar tidak mendengar suara pretir yang begitu keras, inilah yang selalu
terjadi pada Bintang, ia sangat ketakutan ketika turun hujan, apalagi di tambah
dengan padamnya listrik di kota ini, aku menghampiri Bintang adik ku, aku duduk
di sampingnya sambil memeluknya, inilah yang selalu aku lakukan di kala turun
hujan.
Adikku
Bintang ini memiliki phobia yang begitu mendalam terhadap hujan, tetapi itu
terjadi setahun belakangan ini, sebelum itu Bintang adalah anak kecil yang
sangat menyukai hujan, betapa riang dan gembiranya Bintang ketika hujan turun,
dia tidak sabar menunggu hujan turun untuk basah-basahan bermandikan air hujan sambil
keliling di area perumahan.
Oh
iya sampai lupa, aku belum memperkenalkan diri dan juga keluarga ku, nama ku
Bulan, aku lahir pada tahun 1997 tepatnya hari senin malam bulan juli tanggal
28 dan kata ibuku pada saat itu diluar
sedang padang Bulan, itulah mengapa orang tua ku memberiku nama Bulan. Adiku
bernama Bintang, dia lahir pada hari selasa malam 10 oktober 2006, ceritanya
hampir sama dengan pemberian namaku, bedanya pada saat itu begitu banyak
bintang yang mengelilingi bulan. Bapak ku bernama Andre berusian 43 tahun dan
ibuku bernama Sri berusia 41 tahun,2 tahun lebih muda dari bapak ku.
Kami adalah keluarga yang sederhana, tidak
kaya dan tidak miskin, bisa dibilang bercukupan, sekarang untuk menghidupi
keluarganya bapak dan ibu membuka sebuah warung makan di pinggir jalan.
Saat
ini Bintang berusia 9 tahun, Bintang adalah seorang anak yang periang sekaligus
nakal, tetapi dia juga anak yang cengeng ketika apa yang dia mau tidak bisa
dituruti bapak dan ibu karena alasan tertentu, namun tidak lama setelah ia
menangis biasanya Bintang akan riang kembali, tidak butuh waktu lama untuk
mengubah emosi Bintang dari nangis menjadi riang kembali, akan tetapi itu tidak
berlaku dikala bapak dan ibu melarangnya untuk tidak hujan-hujanan, dia akan
marah dan merusak barang-barang dirumah, itu terjadi karena Bintang sangat
menyukai hujan, bagi Bintang hujan adalah suatu keindahan dan kenikmatan yang
diturunkan langsung oleh Allah untuk semua makhluk hidup di bumi, itulah yang
dulu ibu ajarkan kepadaku dan juga adikku Bintang 3 tahun yang lalu. Kala itu
hujan sedang turun deras dan kami sekeluarga sedang kumpul di depan TV.
“Bulan,
Bintang. Kalian suka dengan Hujan??”
“hmmm
biasa aja sih buk” aku menjawabnya, Bintang hanya diam
“sini
ibu beritahu”
“kalian
tau darimana Hujan berasal?” ibu bertanya kepadaku dan Bintang.
“Dari
langit buk!!” Bintang menjawab dengan lantang,
“yak
betul sekali Bintang, akan tetapi kalian tau apa manfaat dari hujan?” ibu
bertanya lagi
“untuk
menyirami tumbuhan mungkin” aku menjawabnya
“selain
itu apa lagi?” ibu bertanya meminta jawaban manfaat dari hujan yang lain
Aku
dan Bintang diam sambil berfikir.
“sini
ibu kasih tau manfaat dari Hujan” ibu mendekatkan kami sambil memeluk aku dan
Bintang
“Hujan
datangnya dari langit itu benar, karena air yang menguap akibat panas matahari
kemudian menjadi awan yang menggumpal di langit dan akan menurunkan hujan ke
bumi, akan tetapi kalian tau siapa yang menurunkan hujan? Hujan turun karena
perintah dari Allah, Allah lah yang telah menurunkan hujan di bumi ini agar
semua makhluk di bumi ini bisa bertahan hidup, coba bayangkan jika tidak ada
hujan, semua tanah akan kering, tumbuhan tidak dapat tumbuh, hewan tidak dapat
minum dan makan dan akhirnya manusia pun juga merasakan kelaparan dan kehausan
karena tidak ada bahan pangan untuk dimakan, jadi hujan itu manfaatnya begitu
besar, dan ingat anak-anak ku, jangan pernah mengeluh ketika hujan datang dalam
kondisi apapun, bersyukur dan bahagialah ketika hujan turun, karena disitu
begitu banyak keberkahan yang Allah berikan kepada seluruh makhluk di bumi ini”
Aku
hanya terdiam mendengarkan ibu sambil mencerna apa yang dikatakan ibu, karena
itu semua memang benar, kalau di logika tanpa ada hujan pasti bumi ini sudah
hancur, semua makhluk hidup dibumi ini akan mati. Bintang mengangguk dan memperlihatkan
wajah yang begitu antusias mendengarkan kata-kata ibu, dan mulai dari situlah
Bintang sangat menyukai hujan, baginya mungkin hujan adalah sahabat terdekatnya.
Beberapa
tahun berjalan dengan begitu cepat, semua berjalan dengan biasa, bapak ibu
berjualan makanan, aku sekolah SMK dan adikku juga masih sering bermain dengan
hujan, hingga suatu ketika terjadilah peristiwa yang tidak bisa Bintang lupakan
dan membuatnya trauma hingga sekarang, kejadian itu terjadi setahun yang lalu
pada bulan januari ketika musim hujan, orang-orang sering menyebut januari itu
hujan sehari-hari, dan Bintang hujan-hujanan juga hampir setiap hari, ibu tidak
pernah melarang dan entah kenapa Bintang tidak pernah sakit akibat
hujan-hujanan, apa mungkin karena dia begitu menyukai hujan sehingga dia tidak
pernah sakit, hanya Allah yang tau itu, yang jelas peristiwa pada saat itu
sangat mengerikan.
Kira-kira
sehabis adzan dzuhur sekitar pukul 12.30 hujan turun begitu deras, semua
keluarga sedang santai sambil nonton TV, Bintang bersorak kencang.
“yeeyyyyy
hujan turun” Bintang bersorak sambil berdiri dan mengangkat kedua tangannya
“buk,
pak, yuk main hujan-hujanan, seru lho!!”
Itu
pertama kali Bintang mengajak ibu dan bapak untuk hujan-hujanan, selama ini
belum pernah sama sekali Bintang mengajak orang untuk hujan-hujanan. Ibu dan
bapak saling memandang, seperti sedang berkomunikasi untuk menyetujui ajakan
Bintang atau tidak, awalnya bapak sempat geleng-geleng kepala, kemudian ibu
menghampiri bapak dan mengatakan sesuatu entah apa itu, dan akhirnya mereka
berdua menyetujui ajakan Bintang, toh baru kali ini Bintang mengajak bapak
ibunya bermain dengan hujan.
Mereka
bertiga keluar, ibu sempat mengajak ku tetapi aku enggan, lebih baik nonton TV
sambil tiduran daripada hujan-hujanan nanti malah kedinginan. Semua berjalan
normal, dari dalam rumah aku mendengar betapa bahagianya mereka, sesekali aku
melihat mereka sedang berlari-lari sambil tertawa, pokoknya semua berjalan
normal dan bahagia hingga tiba-tiba terdengar suara petir begitu besar, aku
sampai terkejut mendengar suara itu, dari luar aku mendengar Bintang berteriak
kencang sambil memanggil ibu dan bapak.
“aaaaaaaa!
Ibukk!!! Bapakk!!!” Bintang teriak sambil menangis.
Aku
langsung bergegas keluar mendengar suara Bintang berteriak, seketika aku shock
dan kaget melihat bapak dan ibu sudah terkapar di depan rumah, dan Bintang
menangis sambil ingin membangunkan bapak dan ibu, refleks aku langsung teriak
meminta tolong dan menghampiri mereka, aku lihat baju bapak dan ibu sobek dan
gosong, bahkan tubuhnya pun sebagian hitam, seketika aku menangis dan berusaha
ingin membangunkan ibu dan bapak, tak lama dari itu banyak orang berdatangan
menolong, membawa kami sekeluarga ke dalam rumah, aku dan Bintang masih
menangis, bapak dan ibuku sudah tidak bergerak sama sekali terbujur kaku, aku
sempat tidak percaya, mungin ini hanyalah mimpi buruk, akan tetapi semua itu
adalah kenyataan, apa yang kalian rasakan jika dalam posisiku, hancur remuk
hati dan jiwa ini, seperti tidak ada harapan untuk hidup dan ingin ikut
mengakhiri hidup, itulah yang aku rasakan.
Tak
lama kemudian sudaraku datang kerumah, menelepon ambulan dan membawa bapak dan
ibu kerumah sakit, aku dan Bintang ikut kedalam mobil ambulan, tak henti aku
dan Bintang menangis, masih tak begitu percaya atas peristiwa ini, sesampainya
di rumah sakit ibu dan bapak dimasukkan ke ruangan UGD untuk di periksa, tak
lama kemudian datang seorang dokter dan bertanya.
“apakah
ini keluarga bapak Andre?” dokter bertanya.
“iya
dok, bagaimana keadaan adik saya” paman saya menjawab.
“mohon
maaf sebelumnya kepada seluruh keluarga pak Andre, kami mohon untuk dapat
bersabar dan menerima serta mengikhlaskan beliau berdua, kami sudah berusaha semaksimal
mungkin, tetapi Allah berkehendak lain, sekali lagi mohon maaf”
Mendengar
perkataan dokter hatiku seperti berhenti sejenak, nafas begitu berat, sesak,
air mata tak berhenti menetes, aku lihat Bintang semakin keras menangis, tak
bisa dijelaskan lagi apa yang aku rasakan, sedih yang teramat dalam, lemas
semua tubuhku dan pandanganku mulai kabur, lalu aku tak dapat mengingat lagi
kejadian berikutnya, yang ku ingat aku terbangun diatas tempat tidur di
kamarku, aku berharap ini hanya mimpi, kemudian aku mendengar banyak orang
membaca doa yasin, aku keluar dan sekali lagi tubuhku merasa lemas, tak tau
harus bagaimana, melihat banyak orang berkumpul untuk mendoakan ibu dan bapak,
aku lihat Bintang masih menangis, berada di sebelah bapak dan ibu, akupun mendekati
bapak dan ibu yang sudah terbujur kaku, tak kuasa menahan tangis, dalam hati
aku berbicara.
“maafkan
Bulan ya buk, maafkan Bulan ya pak, karena Bulan nakal, sering menyusahkan ibu
dan bapak, belum bisa membuat ibu dan bapak bangga, maafin Bulan ya, semoga
bapak dan ibu tenang di alam sana, berada di surga milik Allah, disini Bulan
akan selalu mendoakan bapak dan ibu” aku berkata dalam hati.
Haru,
tangis, sedih, kaget, semua perasaan campur aduk pada hari itu.
Sejak
peristiwa itu Bintang tak pernah terlihat riang, dia selalu menyendiri, diajak
ngobrol hanya diam, dan kala Hujan turun dia langsung lari kekamar, mengambil
sleimut, menutup tubuhnya dan telinganya, dia mengalami trauma yang mendalam
sejak peristiwa itu, berbeda drastis dengan keadaanya setahun yang lalu, hujan
yang begitu ia rindukan sekarang menjadi momok yang menakutkan bagi Bintang.
Tiba
suatu malam, hujan turun begitu deras, petir menyambar kesana kemari ditambah
gelapnya kota ini karena ada pemadaman listrik, aku mengerti apa yang adiku
rasakan, dia takut akan gelap ditambah trauma sejak peristiwa itu, aku
menghampirimya di kamar, dia duduk dengan selimut menutupi tubuhnya sambil
bergetar, aku datang dan membisikan ke Bintang seperti biasa yang selalu aku
bisikan ketika hujan datang.
“Hujan
itu membawa keberkahan, Hujan diturunkan oleh Allah sebagai nikmat bagi
hamba-hamba Nya”
“ahhhhh
sudah”
“tanpa
adanya hujan maka kita semua tidak bisa makan, minum dan bertahan hidup, dengan
adanya hujan kita bisa menanam sayur untuk makan, beternak dan meminum air”
“sudahh
ahhh, “ Bintang menjawab seperti tidak
mau mendengarkan.
Malam
itu hujan turun semakin deras, aku tinggalkan adiku Bintang dan beranjak ke
kamar untuk tidur, malam itu aku sangat khawatir dengan Bintang, ingin sekali
menemani Bintang, tetapi besok aku harus berangkat kerja pagi hari dan mungkin
Bintang saya suruh untuk tidak berangkat sekolah dahulu, akupun meninggalkan
Bintang dan tidur di kamarku.
Keesokan
harinya hujan gerimis, aku terbangun pukul setengah lima pagi untuk sholat
subuh, sehabis sholat aku pergi ke kamar Bintang, betapa kagetnya diriku
melihat Bintang tidak berada di kamar, aku langsung panik, berteriak memanggil
Bintang, tetapi ia tak menjawab, aku cari diseluruh rumah tapi tidak ketemu,
sampai pada akhirnya aku keluar rumah dan melihat Bintang berada di depan rumah
dengan keadaan basah kuyub dan menggigil kedinginan, langsung ku gotong
Bintang, aku bawa masuk, entah apa yang ada dipikiran Bintang saat itu, aku
sempat berfikir apakah dia berada diluar sejak malam, karena badannya lemas dan
kedinginan, ketika aku sedang mengambil handuk ternyata Bintang sudah tidak
sadarkan diri, aku panik, langsung menelepon paman untuk segera datang kesini,
10 menit kemudian paman datang menggunakan mobil dan langsung menggotong
Bintang masuk ke mobil dan membawanya ke rumah sakit.
Pikiran
ku kacau, sempat terngiang di kepala apakah aku akan kehilangan anggota
keluargaku akibat hujan lagi, pikiran itu selalu terngiang di kepala, aku
berusaha menghilangan fikiran itu, aku berusaha berfikir positif, mungkin
Bintang hanya kedinginan, aku selalu berdoa agar Bintang baik-baik saja. Tak
lama dokter datang menemui ku dan paman, aku melihat wajah dokter itu, dokter
itu memiliki ekspresi yang sama ketika dulu aku melihat dokter yang mengatakan
bahwa ibu dan bapak ku telah tiada, dada ku berdegub kencang, khawatir dengan
keadaan Bintang, hanya dengan menatap wajah dokter itu aku jadi tidak ingin
mendengarkan perkataannya, tetapi aku ingi mengetahui keadaan adiku, anggota
keluarga ku satu-satunya saat ini.
“bapak
anggota keluarganya?” si dokter bertanya kepada paman saya
“saya
pamannya dok, ini kakak kandungnya, Bulan”
“orangtuanya?” dokter seperti bertanya dimana
bapak dan ibuku.
“mereka
berdua yatim piatu dok” paman menjawabnya.
“ohhhh,
begini pak, anak tersebut sepertinya sudah lama kehujanan, dan dia sepertinya
memiliki depresi yang begitu berat, kami sudah berusaha semaksimal mungkin,
kami upayakan segala hal untuk menyelamatkan anak tersebut, akan tetapi Allah
berkehendak lain, saya harap bapak beserta keluarga adik ini bisa menerima dan
mengikhlaskannya”
Hatiku
berhenti berdetak, nafasku sesak, berat, sama persis seperti apa yang aku
rasakan dulu ketika aku kehilangan bapak dan ibu, tak bisa dijelakan lagi apa
yang aku rasakan, seperti hancur hidup ini, tak ada arah mau kemana,semua
tujuan telah hilang. Aku berseru.
“ya
Allah, kenapa Engkau menakdirkan ini semua ya Allah, keluargaku yang dulu
begitu mencintai hujan, kini harus berakhir karena hujan, jika itu takdirmu,
maka takdirkan aku juga untuk meninggal akibat hujan secepatnya, biar aku bisa
bertemu dengan keluarga ku di akhirat sana, untuk apa aku hidup bila sendirian,
tak ada siapa-siapa lagi”
Setelah
kejadian itu aku sering berfikiran untuk segera mengakhiri hidupku, tetapi
paman selalu menguatkan ku, menasehatiku, membangun semangat hidupku, hingga
akhirnya aku hidup normal, aku tinggal bersama keluarga pamanku.
Satu
hal yang tidak akan pernah hilang, karena ini pesan yang selalu ku ingat dari
almarhum ibuku, walaupun begitu banyak peristiwa yang menyakitkan, walaupun aku
harus kehilangan orang yang aku sayangi, tetapi satu hal yang perlu anda tau “AKU TIDAK PERNAH MEMBENCI HUJAN”.

0 comments