Wanita Bayangan

By ronaldo bagoes - January 25, 2019


Wanita Bayangan

Tiga puluh delapan hari terlewat begitu menyedihkan, suamiku yang dulu begitu mesra, begitu sayang dan begitu cinta kepadaku kini ia sama sekali tak memperdulikan aku, seperti tak menganggapku ada, setiap hari aku menangis, aku berceloteh, aku coba menggodanya, tapi tak satupun ia membalas nya.

Apa yang sebenarnya trerjadi pada sosok lelaki tertampan di dunia menurut versi ku, apakah aku bidadari tak bersayap yang dulu kau ucapkan untuk menggambarkan sosok diriku telah melakukan kebodohan? telah melakukan kesalan? Jika iya tolong jelaskan kepadaku, agar aku bisa memperbaiki kebodohanku, jangan hanya bisu terdiam seribu bahasa, ditambah kau tak memperdulikanku sama sekali.

Aku sangat sedih, bayangkan seorang lelaki mendiamkan wanita yang ia nikahi dengan janji akan mencitai sehidup semati, apakah ia sudah tak mencitaiku diriku lagi? apakah janji itu hanya terucap hanya dimulutmu tanpa kau lekatkan di lubuk hatimu? Kukira kau berkomitmen dan telah kau tanamkan dalam hatimu untuk mencitaiku sehidup semati, ternyata tidak, kini kau seperti lelaki brengsek yang hanya menikahiku untuk memenuhi hasrat nafsu belaka mu.

Usia pernikahan kita masih sekecil biji kopi, belum genap 365 hari kita hidup seatap, belum genap setahun kita tidur dalam satu ranjang, apakah kini kau sudah bosan kepadaku? Apakah kau tidak suka dengan bentuk lekuk tubuhku? Atau adakah cacat ditubuhku yang tak kau sukai dan membuat mu merasa jijik? Aku tak mengerti alasan sebenarnya kau tak menggubrisku sejak 38 hari yang lalu.
Hari ini kau terbangun dari tidur lelapmu, aku telah menyiapkan secangkir wedang kopi dan roti untuk mengawali harimu, seperti yang rutin aku lakukan setiap pagi, dan 38 hari juga kau tak pernah menyentuh hidanganku, melirikpun tidak, kau malah pergi ke dapur membuat minuman hitam itu sendiri.

Sekarang kau sedang mandi, bersiap untuk mencari nafkah, dan rutin seperti biasa aku selalu menyiapkan pakaianmu, kugosok agar terlihat rapi, karena aku ingin suamiku selalu terlihat tampan, rapi dan keren, dibalik suami yang tampan, rapi dan keren pasti ada istri yang selalu merawatnya, kusiapkan semua pakaian suamiku sebelum kerja, tapi 38 hari juga kau tak memakai pakaian yang telah aku siapkan dengan susah payah, melirik pun juga tidak, kau lebih memilih pakaian lusuh yang tergantung di dalam kotak kayu. Selama 38 hari kau mencari nafkah dengan pakaian berantakan, apa kata orang yang meihatmu, pasti merekan berfikiran kalau istrinya tidak becus mengurus suaminya. Aku hanya bisa terdiam dan sedih membayangkannya.

Sebelum berangkat kerja, rutinnya kau selalu berpamitan dengan ku, memeluk tubuhku yang mungil jika dibandingkan dengan tubuhmu, mecium keningku yang halus karena tak pernah tumbuh jerawat dikeningku, dan selalu berbisik ke telingaku “aku sayang kamu, tunggu si tampan ini pulang”, kemudian aku berbalas berbisik di telinganya “siap lelaki tampan, bidadari cantik ini tak sabar menunggumu pulang”. Walaupun hanya hal sepele, tetapi kata-kata itu yang selalu mengawali kebahagiannku sepanjang hari, lalu kucium kening dan tangannya dan kau beranjak menuju mobil berwarna silver yang terparkir didepan teras rumah. Tetapi sudah 38 hari ini ia hanya pergi bekerja begitu saja tanpa berpamitan denga ku, sedih diriku, remuk dan hancur hatiku, tetapi aku berusaha tetap bertahan.

Sepulang kerja kusambut kau di depan rumah, rutinnya kau selalu memeluk tubuh mungilku dan mencium keningku sebagai tanda rindu tidak bertemu selama beberapa jam, lalu kau menggendong tubuh mungilku masuk kedalam rumah dan kita makan bersama, sungguh harmonis yang kurasakan kala itu, sungguh beruntung aku memiliki sosok lelaki tampan yang selalu bisa membuatku bahagia, membuatku tersenyum dan membuatku selalu rindu. Tetapi keharmonisan dan kebahagian itu hilang 38 hari yang lalu, aku masih mencoba berlapang dada, tetapi apakah ada wanita diluar sana yang masih kuat hatinya ketika diperlakukan seperti apa yang aku alami selama 38 hari in? Apakah ada? Mungkin hanya 1 dari 10.000 wanita yang kuat menghadapinya.

Esok hari telah tiba, sekarang hari sabtu, kau sedang libur kerja mingguan, biasanya rutin setiap hari sabtu kau selalu mesra kepadaku, kau menggoda ku, kubalas menggodamu juga, kita bercanda tertawa terbahak-bahak, kita habiskan waktu sehari untuk berbahagia, tak sedetikpun ada kesedihan, jika ditanya dalam seminggu hari apa yang aku sukai, pasti akan ku jawab hari sabtu, walaupun hari-hari lainnya juga berjalan menyenangkan, hari sabtu adalah hari yang selalu kutunggu-tunggu karena pada hari itu aku merasakan banyak keindahan yang terjadi dan berasa seperti tuan putri, kau selalu menuruti apa kemauanku dan aku juga selalu menuruti apa kemauan mu, kau selalu meminta aku untuk memasak makanan kesukaan mu yaitu ayam opor, setiap hari sabtu kita selalu makan ayam opor, tak pernah aku merasakan bosan, begitu juga suamiku, karena pada hari itu kebahagiaan selalu menyelimuti setiap detik yang kita lewati.
Hari sabtu selalu menjadi hari istimewa, kita habiskan seharian di rumah, melepas kerinduan sejak hari senin sampai jumat, memuaskan kerinduan kita, walaupun hari itu kita hanya di ruang utama, ruang makan dan tempat tidur, tetapi entah mengapa itulah yang selalu kunantikan, seperti tak ada yang bisa mengganggu kita, kita berdua bagaikan pangeran dan tuan putri, kita bermesraan, bertawa ria dan bercumbu mesra, hingga ku merasakan seperti berada di surga dunia, begitu nikmat dan indah pada hari itu. Tetapi semua keindahan dan kebahagiaan itu telah sirna dan tak pernah kurasakan lagi termasuk hari ini, dia tak memperdulikanku sama sekali, menggerakkan bola matanya kepadakupun tidak, dia hanya duduk menonton TV, makan beli di warteg dan tidur.

Matahari telah menampakkan rupanya, memicingkan cahayanya ke setiap kota, hari ini adalah hari minggu, hari yang juga selalu kutunggu-tunggu selain hari sabtu, karena di hari minggu aku juga merasakan keindahan dan kebahagiaan bersama suamiku, di hari ini lah kita habiskan waktu diluar rumah, melihat pemandangan kota, menemukan hal-hal baru diluar sana.

Pukul tujuh sehabis sarapan pagi kita langsung cabut keluar rumah menggunakan mobil silver, kadang kita ke taman bunga untuk merasakan keasrian bumi, terkadang kita ke kebun binatang untuk mengetahui kegiatan makhluk hidup lain, terkadang kita ke pegunungan untuk takjub dengan kekuasaan Tuhan, terkadang kita berwisata kuliner untuk menambah rasa dalam hidup kita, dan terkadang kita jalan-jalan tak jelas untuk menghabiskan waktu hari itu.

Semua berjalan menyenangkan setiap hari minggu, namun tidak dengan hari ini, genap sudah 40 hari ia tidak memperdulikan aku, melirikpun tidak apalagi berbicara kepadaku untuk sekedar bertanya bagaimana keadaanmu.

Pagi itu suamiku pergi tanpa mengajak ku, entah kemana ia pergi sambil membawa mobil silver, aku hanya bisa pasrah, merenung dan menangis dikamar, berharap keadaan ini segera berakhir dan kembali seperti sediakala, aku duduk terdiam menunggu suamiku pulang.

Gemuruh suara mobil terdengar di depan rumah, itu pasti suamiku, aku membukakan pintu untuk suamiku dan pada saat itu aku terkejut dan terharu melihat suamiku membawa seikat bungan cantik bewarna merah, bunga itu seperti bunga yang dulu ia berikan saat melamarku, aku sejenak merasakan bahagia dan berfikir inilah akhir dari penderitaan ku sebelum ia masuk dan melewatiku begitu saja tanpa memperdulikan aku, seketika hancur dan remuk hatiku, sedih sangat mendalam yang aku rasakan, ia meletakkan bunga itu di atas meja, lalu pergi ke kamar, ku hampiri bunga itu dan ternyata terdapat kertas kecil di ikatan bunga itu, kubaca kertas itu yang bertuliskan “aku selalu menyayangimu dan aku tak akan berpaling darimu”. Aku sungguh marah pada saat itu, karena jika bunga itu bukan untuk ku pasti untuk wanita lain, jadi ini alasan suamiku tidak memperdulikan aku selama 40 hari karena dia selingkuh dengan wanita lain, itulah yang ada di fikiranku saat itu.

Aku bergegas menghampiri suamiku di kamar, ia sedang berganti baju, rapi, keren dan tampan, sepertinya dia menggosok bajunya terlebih dahulu, melihat itu semakin naik pitam diriku, “apa apaan ini, jadi selama ini kamu selingkuh?” aku membentaknya, tetapi dia tak merespon sama sekali, “hei dengarkan aku, jawab pertanyaanku, kamu selingkuh?” tak satupun kata keluar dari mulutnya “dasar lelaki brengsek” aku sempat memakinya, dan dia masih tidak memperdulikan aku.

Suamiku beranjak pergi dengan membawa bunga tersebut, menuju mobil dan aku mengikutinya, sepertinya dia mengijinkan aku untuk ikut karena dia tak melarangku sama sekali, mobil berjalan begitu pelan, hingga sampai di area pemakaman, dia parkir mobil dekat dengan area pemakaman, apakah wanita tersebut rumahnya berada di sekitar pemakaman? Dia turun dan aku mengikuti di belakangnya, dia menuju tempat pemakaman, dan tiba di salah satu makam, dia duduk dan meletakkan bunga di atas makam itu, kulihat dia memeluk batu nisan itu sambil meneteskan airmata, aku masih tak mengerti apa yang terjadi hingga ketika suamiku melepas pelukannya aku melihat nama ku terpahat di batu nisan tersebut.

“ternyata aku telah meninggal 40 hari yang lalu akibat perampokan di rumahku” dan itu baru kusadari setelah aku melihat batu nisan itu. Dan kini aku menjadi wanita bayangan yang tak pernah terlihat oleh suamiku.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments